TUNGKU YANG TIGA (dari berbagai segi)
SEGI BAHASA
Sebelum kita bahas mengenai dalihan na tolu ni ompunta i, ada baiknya kita pelajari terlebih dahulu bhs. Batak agar dapat kita ketahui “Apa sebenarnya arti kata Somba Marhula-hula?” Sedangkan Manat Mardongan Tubu dan Elek Marboru tidak perlu di bahas disini, karena tidak ada yang kontroversial di dalamnya.
Tonga artinya Tengah. Boras artinya beras. Monang artinya menang. Jora artinya jera. Tongkar artinya tengkar. Portibi artinya pertiwi (kalo “dunia” itu bhs. Arab). Porang artinya perang. Podangartinya pedang. Jadi kalo SOMBA?
Somba artinya SEMBAHbukan hormat Jadi kalo kita katakan arti kata Somba = Hormat, berarti kita ini lagi merusak bahasa. SANGAP lah bhs. Bataknya hormat, dan level kedua tsb sangat berbeda. Dibawah Somba-lah levelnya sangap. Sebab hanya kepada Tuhanlah kita boleh menyembah, sedangkan kepada sesama tidak boleh. Sedangkan sangap: bisa kepada Tuhan, bisa juga kepada sesama. Jadi, DIBAWAH SOMBA-LAH LEVELNYA SANGAP.
Selain itu jika kita katakan Somba Marhula-hula artinya Hormat kepada
hula-hula, berarti KITA INI LAGI MERUSAK KEASLIAN ADAT ITU SENDIRI. Aslinya adalah kita harus betul-betul menyembah kepada hula-hula, tidak cukup hanya sekedar menghormati. Itulah aslina. Sebab hula-hula diyakini oleh ompunta i sebagai mual ni nasa pasupasu (sumber dari segala berkat).
SEGI IMAN
Di Kitab Kejadian 1-2 jelas kita baca bahwa: Yang menciptakan dunia ini dengan segala isinya adalah Tuhan Allah. Dia menciptakan manusia dari tanah dan setelah meninggal dunia kita akan kembali menjadi tanah. Mana ada orang yang sudah meninggal dunia kembali ke rumah hula-hulanya atau ke rumah tulangnya. Mana mau hulahula/tulang kita menerima bangkai kita yang busuk itu. Selain itu Tuhanlah yang manciptakan nasi, lauk-pauk, sayur-mayur, buah-buahan, d.n.a. Jadi Tuhan Allah-lah SUMBER DARI SEGALA BERKAT, bukan hulahula atau tulang ni batak.
SEGI MODERNITAS ORANG BATAK.
Mengenai kemajuan/modernitas suku Batak bukanlah karena kita tekun mardalihan na tolu. Datangnya para missionaris dari Eropalah yang membuat orang Batak menjadi salah satu suku bangsa yang cukup maju di Indonesia ini. Sebab disamping memberitakan Injil, mereka juga mendirikan sekolah-sekolah untuk membawa orang Batak keluar dari keterbelakangan (primitif), kegelapan, ketertutupan (terisolir) menuju kemajuan seperti yang kita lihat saat ini. Selain itu yang harus anda ketahui adalah : bahwa kedatangan para missionaris ke tanah Batak BUKANLAH KARENA ADA UNDANGAN dari ompunta sijolojolo tubu atau dari tulang ni Batak atau dari hulahula ni Batak. TUHAN YESUS-LAH YANG MENYURUH MEREKA MENINGGALKAN KAMPUNG HALAMAN MEREKA DI NEGERI YANG JAUH DI EROPA UNTUK MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN DI KAMPUNG KITA, BONA PASOGIT (MAT. 28:19-20).
PELAKSANAANNA
Tidak jauh berbeda dengan zaman ompunta i. HULAHULA NI BATAK MAUNYA KITA SEMBAH SEPERTI TUHAN.
KESIMPULAN
Jadi daripada kita merusak bahasa dan keaslian adat itu sendiri, mendingan KITA BUAT ADAT BATAK YANG BARU, yang berdasarkan Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Jangan lagi berdasarkan tona ni ompunta i. Selain itu jangan kita campuradukkan antara agama dan adat ni ompunta i, seperti yang dilakukan oleh teman-teman yang ingin menggabungkan Teologi dengan dalihan na tolu. Kan diantara kita sudah banyak yang berpendidikan S2, S3, lalu kenapa kita masih berguru kepada ompunta i? Kenapa kita tidak mampu menciptakan adat yang baru padahal jenjang pendidikan kita sudah tinggi, sementara ompunta i mampu manciptakan adat batak walaupun tidak ada ijazah SDnya?
YESUSLAH GURU, bukan ompunta sijolojolo tubu (Joh. 13:13). Jika kita telah mengimani Dia sebagai Tuhan, maka kita harus membuat Dia sebagai Guru di kehidupan sehari-hari. Jangan lagi ompunta i atau pun para missionaris yang menjadi guru kita. Tugas para missionaris cuma memperkenalkan Tuhan Yesus kepada orang-orang Batak. Siapa yang berasal dari atas, diatas segalanya (Joh. 3:31).
saya lira tidak masalah dalam pelaksanaan adat berdalihan natolu, kita hormati hula2 tetap berdalihan natolu saya kira tidak rusak, menyembah hula2 ya tidak, menghormati kenapa tidak? apakah rusak dalihan natolu itu karena berubah dari menyembah menjaadi menghormati? tidak samasekali
kalo mo ubah jadi adat baru yang sesuai kekristenan,kenapa tidak semua hal yang berbau kekafiran diubah lae? ini saran saya:
nama bulan dari Januari sampe desember (nama2 bulan yang sekarang dipakai adalah nama2 dewa) lae ganti saja dengan nama2 yang ada di alkitab? jadi entar ada bulan Amos bulan Yunus?
Lalu kita mesti ganti perayaan natal kita bukan tgl 25 desember lagi,karena tgl tersebut adalah tanggal dewa kuno HALAK EROPA.
ga usa pake salib lagi karena dulunya merupakan alat ekseskusi kematian dst…dst…
orang2 eropa haruslah lae sadarkan untuk mengganti nama2 hari mereka seperti sunday (dea mathari) thursday (dewa kilat/Thor) untuk diganti dengan hari yang berbau alkitabiah,
karena ulos dianggap kekafiran, maka harus dibakar kenapa ga sekalian saja candi2 borobudur dan yang lain2 dibakar kan itu kafir dipandandang dari sudut Kristen?
jadi jangan adat batak saja yang dikritik, adat orang eropa juga
bagaiamana lae?
menurutku tak usalah terlalu alergi terhadap adat Batak, saya kira tidak ada lagi Hula2 yang merasa jadi titisan Batara Guru dan mengharuskan disembah…
Horas
Partomuan Manurung - 17/01/2009 at 7:47 am
Yang jadi masalah adalah perubahan makna kata dari yang tadinya Sembah kepada hulahula menjadi sekedar hormat kepada hulahula. Itu sudah merupakan pengrusakan bahasa, karena makna katanya sudah diturunkan.
Saya paling alergi melihat kekafiran atau kefasikan yang dirohanikan seperti halnya adat batak saat ini.
Yang saya bahas dalam tulisan saya adalah masalah adat batak, bukan masalah bulan dalam kalender atau masalah tgl. 25 Desember atau masalah candi borobudur. Terlalu lebar permasalahan jika hal-hal tsb kita bahas.
Biarlah orang Eropa yang mengkritik sesamanya orang Eropa.
Ulos adalah karya seni, bukan benda berhala.
Tidak lagi menjadi titisan batara guru karena sudah diturunkan makna Somba Marhulahula dari yang tadinya sembah kepada hulahula menjadi sekedar menghormati hulahula. Tanpa kita sadari hal ini sudah merusak bahasa dan merusak keaslian adat itu sendiri.
Karena itu marilah kita jadi orang-orang yang kritis terhadap diri sendiri, jangan cuma nrimo aja!
qartha - 17/01/2009 at 11:31 am
ah… Lae sepertinya memang sulit menerima pendapat dari perspektif berbeda, padahal Lae berani membuat tulisan “cerdas”. Ada-ada saja bah. katanya Batak…he-he-he
Sekedar saran Lae, sebab pasti kommen ini Lae hapus juga, kalau mau membuat ADAT BATAK yang BARU, Lae bisa memulai dengan memanggil orang yang lebih tua sebagai Abang, Bapatua dll., tanpa peduli seandainya pun dia secara adat adalah cucu Lae. Dengan demikian, saya pandang Lae konsisten dengan niat membuat Adat Baru. itu jelas lebih konsisten, dan saya bisa percaya ucapan heroik Lae berikut ini:
“Saya paling alergi melihat kekafiran atau kefasikan yang dirohanikan seperti halnya adat batak saat ini.”
selamat ber-revolusi lah Lae. Horas
mordong - 25/04/2009 at 1:41 pm
Tulisan saya tsb diatas bukan untuk menunjukkan bahwa saya ini anti adat. Tujuan dari tulisan tsb adalah agar kita lebih rasional dalam menyikapi adat Batak yang kita warisi dari ompunta sijolojolo tubu. Jangan asal nrima begitu saja. Sebab kita ini sudah lain dengan mereka. Mereka batak primitif nan animisme, sedangkan kita Batak modern, terpelajar dan Kristen.
Oleh sebab itu mari kita ciptakan adat Batak yang baru dan benar-benar Kristen. Bukan mengkristenkan adat Batak animisme. Karena hal itu sama dengan merohanikan hal-hal yg berbau kefasikan.
qartha - 27/04/2009 at 2:54 am
Ada beberapa masalah dengan Dalihan Na tolu ini.
Misalkan kita berkeluarga, saya dari kalimantan dan istri dari jawa. Kami sama-sama batak diaspora. Pada suatu saat saya akan mengadakan acara di kalimantan, bagaimanakah caranya saya menemukan hula-hula saya disana, sedangkan istri mengetahui keluarga dekatnya tidak ada yang tinggal disana. Bila saya mengadakan acara di jawa, bagaimanakah caranya saya menemukan dongan tubu dan boru untuk membantu saya, sedangkan saya tidak mengetahui ada keluarga dekat yang tinggal disana.
Dalihan Na Tolu terlalu memaksa kita dalam hal ini bahwa semua perangkat adat harus lengkap (Dongan tubu, Boru, dan Hula-hula). DNT belum bisa menjawab tantangan jaman sekarang dimana kasus yang saya alami ini sudah sering terjadi.
GBU
dongan - 06/08/2009 at 1:09 pm
Kalian berdua sudah di adatin belum? Istrimu sudah dianugerahi marga belum?
Dongan tubu nggak sama persis dgn marga kita. Misalnya: marga saya Panggabean. Kalau di kalimantan nggak ada marga Panggabean, bisa saya cari marga Hutabarat, Hutagalung, Tobing atau Hutapea.
qartha - 29/09/2009 at 9:15 am