Riwayat Hidup Pdt.DR.I.L.Nommensen

Sosok anak manusia yang memiliki keberanian, kesungguhan, ketulusan dan jiwa petualangan, ada pada diri Ingwer Ludwig Nommensen. Di besarkan di bawah budaya barat, Nommensen berani menetapkan pilihan untuk mendatangi dunia lain yang sama sekali berbeda, jauh dan penuh misteri — Tanah Batak –
Berbekal sebagai seorang theolog muda, menerima tantangan untuk mendedikasikan ilmu, iman dan pengabdiannya bagi Bangso Batak, yang hanya diketahui dari buku literatur yang terbatas dan dengar-dengaran dari sumber-sumber yang belum tentu teruji kemampuannya dalam menggambarkan sifat, sikap dan alam Batak, nun jauh di timur.
Tentu melihat ini kita diminta untuk memutar roda waktu ke tahun 1861, dengan segala keterbatasannya, tanpa kecanggihan transportasi dan alat komunikasi. Terbukti, untuk tiba di tempat yang akan ditujunya menghabiskan waktu 142 hari, yang saat ini dapat kita tempuh hanya 11 jam kurang lebih.
Perbedaan budaya, bahasa dan agama tidak menyurutkan niatnya untuk memulai “pengabdian” di tengah perlawanan dan ancaman Bangsa Batak yang belum terbiasa menerima kehadiran “orang aneh”, yang berlainan bahasa, pola hidup, warna kulit dan mata serta rambutnya.
Kesungguhan dan keteguhan Nommensen, terbukti mampu memenangkan penolakan besar Bangsa Batak yang berbuah pada dimulainya era baru bagi kehidupan sosial dan spritual, hingga berimplikasi luas pada tatanan mayoritas Batak. Pendekatan sosial religius, tidak terpungkiri mewarnai kehidupan sebagian besar di antara kita saat ini.
Nommensen, sang Peretas!
Tidak sekedar untuk dikenang, nostalgia masa lalu, tentu ada pelajaran besar dari penggalan perjalanan hidup Nommensen. Untuk kita pelajari dan ketahui.
Tahun 1834, tanggal 6 Februari
Ingwer Ludwig Nommensen lahir di Nortdstrand, pulau kecil di panatai perbatasan Denmark dan Jerman. Dia anak pertama dan lelaki satu-satunya dari empat orang bersaudara. Ayahnya Peter dan ibunya Anna adalah keluarga yang sangat miskin di desanya. Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan cerita gurunya Callisen tentang misionar yang berjuang untuk membebaskan keterbelakangan, perbudakan pada anak-anak miskin.
Tahun 1846 pada umur 12 tahun
kedua kakinya sakit parah karena kecelakaan kereta kuda pulang dari sekolah. Selama setahun lebih tidak dapat berjalan, kakinya hampir diamputasi. Dia berjanji kepada Tuhan bahwa akan menjadi misionar apabila kedua kakinya sembuh kembali. Dia akan pergi jauh untuk membebaskan anak-anak miskin yang budak karena hutang orang tuanya, dia akan memberitakan Firman Tuhan kepada pelbegu yang sangat terbelakang sebagaimana sering diceritakan gurunya Callisen yang sangat dikaguminya.
Tahun 1847
Kedua kakinya sembuh secara ajaib, dia dapat berjalan seperti sediakala. Dia kembali ke sekolah pada musin winter (musim dingin) karena pada musin summer dia akan menjadi gembala domba untuk menerima upahan karena orangtuanya sangat miskin.
Tahun 1848, tanggal 2 Mei
Ayahnya Peter Nommensen meninggal dunia. Ingwer Ludwig Nommensen sebelumnya bermimpi akan kehilangan ayahnya, maka ia tidak terkejut ketika orang membawa ayahnya ke rumah yang meninggal di tempat kerjanya.
Tahun 1849
Pada umur 15 tahun (suatu pengecualian), dia mendapat sidi. Biasanya, orang akan diijinkan mendapat sidi pada umur 17 tahun. Namun, karena Ingwer Ludwig Nommensen sudah tidak obahnya seperti ayah dari dari segi tanggung jawab kepada keluarga maka diberi pengecualian kepadanya. Dia mendapat sidi setelah setahun belajar Alkitab.
Tahun 1854
Ibu Ingwer Ludwig Nommensen merestui anaknya, satu-satunya lelaki di antara empat orang bersaudara, menjadi seorang misionar.
Tahun 1857
Ingwer Ludwig Nommensen masuk sekolah pendeta di RMG Barmen setelah menunggu sekian lama.
Tahun 1858, Januari Ibunya meninggal dunia di Nordstrand.
Tahun 1859
4 orang Misionar RMG Barmen serta 3 orang isteri misionar terbunuh di Borneo, berita itu semakin menggugah hati Ingwer Ludwig Nommensen untuk pergi ke daerah pelbegu.
Tahun 1861, 7 Oktober
berdiri HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Praosorat Sipirok, sebagai permulaan Misi Kongsi Barmen di Tanah Batak. Hari itu terjadi kesepakatan 4 orang Misionar Belanda dan Jerman yaitu:
H (Heine)K (Klammer)B (Betz) danP (Van Asselt) menjadi penginjil atas tanggung jawab Rheinische Missionsgeselshaft dari Barmen, Wupertal, Jerman, yang lazim diebut Kongsi Barmen.
Tahun 1861, Oktober
Ingwer Ludwig Nommensen ditahbiskan sebagai pendeta dan langsung diberangkatkan oleh Missi Barmen menjadi misionar ke Tanah Batak, tetapi selama 2 bulan dia masih belajar Bahasa Batak dan Budaya Batak dari Dr. Van Der Tuuk di Belanda.
Tahun 1861, Desember
Ingwer Ludwig Nommensen berangkat dari Amsterdam menuju Sumatera dengan kapal Pertinar. Pelayaran itu memakan waktu selama 142 hari.
Tahun 1862, 14 Mei
Setelah mengalami banyak cobaan di lautan, Ingwer Ludwig Nommensen mendarat di Padang. Selanjutnya dia tinggal di Barus. (Kapal Pertinar kemudian tenggelam dalam lanjutan pelayaran kea rah timur di sekitar Laut Banda dekat Irian Barat).
Tahun 1862, November
Bersama beberapa orang Batak, mengadakan perjalanan ke pedalaman Sumatera melalui Barus dan Tukka. Dari Barus, Ingwer Ludwig Nommensen pergi ke Prausorat dan kemudian tinggal dengan Van Asselt di Sarulla.
Tahun 1863, November
Ingwer Ludwig Nommensen pertama kali mengunjungi Lembah Silindung. Dia berdoa di Bukit Siatas Barita, di sekitar Salib Kasih yang sekarang. “Tuhan, hidup atau mati saya akan bersama bangsa ini untuk memberitakan FirmanMu dan KerajaanMu, Amin!”
Tahun 1864, Mei
Ingwer Ludwig Nommensen diijinkan memulai misinya ke Silindung, sebuah lembah yang indah dan banyak penduduknya.
Tahun 1864, Juli
Ingwer Ludwig Nommensen membangun rumahnya yang sangat sederhana di Saitnihuta setelah mengalami perjuangan yang sangat berat.
Tahun 1864, 30 Juli
Ingwer Ludwig Nommensen menjumpai Raja Panggalamei ke Pintubosi, Lobupining. Raja Panggalamei beserta rombongannya 80 orang membunuh Pendeta Hendry Lyman dan Samuel Munson (missionar yang diutus oleh Zending Gereja Baptis dari Amerika) di sisangkak, Lobupining pada tahun 1834, bertepatan dengan tahun lahirnya Ingwer Ludwig Nommensen di Eropa.
Tahun 1864 , 25 September
Ingwer Ludwig Nommensen mau dipersembahkan ke Sombaon Siatas Barita dionan Sitahuru. Ribuan orang datang. Ingwer Ludwig Nommensen akan dibunuh menjadi kurban persembahan. Ingwer Ludwig Nommensen tegar menghadapi tantangan, dia berdoa, angin puting beliung dan hujan deras membubarkan pesta besar tersebut. Ingwer Ludwig Nommensen selamat, sejak itu terbuka jalan akan Firman Tuhan di negeri yang sangat kejam dan buas. Ingwer Ludwig Nommensen pantas dijuluki “Apostel di Tanah Batak”
Tahun 1865, 27 Agustus
Pembaptisan pertama di Silindung terhadap empat pasang suami-istri beserta 5 orang anak-anaknya. Diantara keluarga yang dibaptis pertama adalah Si Jamalayu yang diberi nama Johannes dengan istrinya yang dibawa dari Sipirok sebagai pembantu Ingwer Ludwig Nommensen diberi nama Katharina.
Tahun 1866, 16 Maret
Ingwer Ludwig Nommensen diberkati menjadi suami-isteri dengan tunangannya Karoline di Sibolga. Karoline datang dari Jerman beserta rombongan Pdt. Johansen yang dikirim Kongsi Barmen untuk membantu Ingwer Ludwig Nommensen di Silindung.
Tahun 1871
Ingwer Ludwig Nommensen mengalami penyakit disentri yang sangat parah, dia pasrah untuk pergi menghadap Tuhannya tetapi dia tidak rela misinya berhenti begitu saja. Dia dibawa Johansen berobat ke Sidimpuan.
Tahun 1864
Karoline melahirkan anak pertama diberi nama Benoni, namun beberapa hari kemudian meninggal dunia.
Tahun 1872
Pargodungan Saitnihuta yang disebut Huta Dame pindah ke Pearaja. Setelah Gereja baru hampir selesai dibangun, putri pertama Ingwer Ludwig Nommensen yang bernama Anna meningal dunia. Keluarga Ingwer Ludwig Nommensen telah kehilangan dua anak pertama, sungguh suatu ujian berat bagi misionar dalam memulai misinya.
Tahun 1873
Sikola Mardalan-dalan (Sekolah dengan tempat tidak tetap) diciptakan Ingwer Ludwig Nommensen agar Orang Batak bisa secepatnya menjadi guru. Siswa mendatangi Ingwer Ludwig Nommensen di Pearaja, Johansen di Pansurnapitu dan Mohri di Sipoholon dimana para misionar tersebut bertugas. Atau, misionar mendatangi siswanya ditempat tertentu.
Tahun 1875
Misionar Ingwer Ludwig Nommensen, bersama Johansen dan Simoneit bekunjung ke Toba.
Tahun 1876Telah dibaptis lebih dari 7000 orang di Silindung.
Tahun 1876
Ingwer Ludwig Nommensen selesai menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak Toba.
Tahun 1877
Ingwer Ludwig Nommensen dan Johansen mendirikan Sekolah Guru Zending di Pansurnapitu. Tempat berdirinya sekolah tersebut adalah tempat yang dulunya dikenal sebagai Pasombaonan (tempat angker), yang sekarang tempat berdirinya STM Pansurnapitu dan Gereja HKBP Pansurnapitu.
Tahun 1877
- Raja Sisingamangaraja ke-XII mengancam akan membumihanguskan kegiatan missioner, ancaman ini tidak menjadi kenyataan.
- Silindung masuk kolonisasi Belanda.
Tahun 1880
Ingwer Ludwig Nommensen beserta istri dan anak-anaknya pergi ke Eropah. Mereka diantar oleh banyak orang sampai ke tengah hutan. Mereka berjalan kaki selama dua hari dari Silindung ke Sibolga, menjalani jalan setapak yang sangat sulit. Mereka menungu keberangkatan dari Sibolga ke Padang selama dua minggu.
Tahun 1881
Menjelang Natal, Ingwer Ludwig Nommensen kembali ke Pearaja. Dia kembali sendirian, isterinya tinggal di Jerman karena masih perlu perawatan. Anak-anaknya juga tinggal di sana agar bisa sekolah dengan baik.
Tahun 1881
Kongsi Barmen menetapkan Ingwer Ludwig Nommensen menjadi Ephorus pertama HKBP, dia digelari ‘Ompu i’
Tahun 1887
Karoline isteri Ingwer Ludwig Nommensen, meninggal di Jerman, sebulan kemudian baru Ingwer Ludwig Nommensen mengetahuinya.
Tahun 1890
Ingwer Ludwig Nommensen memulai misinya ke Toba, dia pindah ke Sigumpar.
Tahun 1891 bulan Mei
Christian, anak ompu Ingwer Ludwig Nommensen, mati terbunuh di Pinang Sori oleh lima orang kuli China di areal perkebunan.
Tahun 1892
Bersama Pendeta Johansen yang juga sudah menduda pergi ke Jerman untuk berlibur, menjenguk anak-anaknya, dan mencari pasangan baru untuk masing-masing misionar yang telah menduda. Ingwer Ludwig Nommensen mendapatkan jodohnya anak Tuan Harder yang bernama Christine, Johansen mendapatkan jodohnya anak Tuan Heinrich yang bernama Dora. Mereka kembali ke Tanah Batak dengan masing-masing pasangan barunya.
Tahun 1900 Permulaan Zending Batak.
Tahun 1903 Permulaan misi Zending ke Medan
Tahun 1904
Fakultas Theologi Universitas Bonn, Jerman, menganugerahkan gelar Doktor Honouris-Causa di bidang Theologi kepada Ingwer Ludwig Nommensen. Dalam pengukuhan tersebut, Ratu Wilhelmina dari Belanda ikut diundang sebagai tamu.
Tahun 1905
Berkunjung ke Eropah bersama Tuan Reitze, dia mengunjungi Misi Zending di Belanda dan berkunjung kepada Ratu Wilhelmina.
Tahun 1909
Christine Harder, isteri Ingwer Ludwig Nomensen meninggal dunia, setelah melahirkan tiga orang anak. Dia dimakamkan di Sigumpar. Dua anak perempuannya tinggal di Jerman dan belum menikah sewaktu Ompu Ingwer Ludwig Nommensen meningal pada umur 84 Tahun.
Tahun 1911
- Pesta jubileum 50 tahun HKBP. Pesta besar di onan Sitahuru dihadiri puluhan ribu orang, di tempat dimana 47 tahun sebelumnya Ingwer Ludwig Nommensen mau dibunuh dan dipersembahkan kepada Sombaon Siatas Barita.
- Ratu Wilhelmina dari belanda menganugerahkan Bintang Jasa ‘Order Of Orange Nassau’ kepada DR. Ingwer Ludwig Nommensen, sebuah bintang jasa yang hanya diberikan kepada orang yang dianggap luar biasa jasanya di bidang kemanusiaan.
Tahun 1912
Berlibur ke Eropah, kembali ke Tanah Batak bersama tuan Pilgram yang telah lama bertugas di Balige.
Tahun 1916Nathanael anak Ingwer Ludwig Nommensen, mati tertembak di arena Perang Dunia I di Perancis.
Tahun 1918, Tanggal 23 Mei
Pukul enam pagi Hari Kamis, Ompu Ingwer Ludwig Nommensen pergi menghadap Tuhannya di Sorga. Dia menutup mata untuk selama-lamanya setelah berdoa ‘Tuhan kedalam tanganMu kuserahkan rohku, Amin’.
Pada Jumat sore, 24 Mei 1918
Ompu Ingwer Ludwig Nommensen dikubur di Sigumpar. Puluhan ribu datang melayatnya untuk mengucapkan salam perpisahan. Ada orang berkata : Inilah kumpulan manusia yang paling banyak yang pernah terjadi di Tanah Batak.
Ringkasan ini diambil dari buku:DR. I.L. Nommensen – Apostel di Tanah Batak oleh Patar M. Pasaribu
Saya sangat terharu membaca tulisan ini bagaimana besarnya kasih, perjuangan seorang asing yang rela meninggalkan kesenangan dunia dan pergi kedaerah pedalaman yang dia tidak kenal sebelumnya.
Pertanyaan, apa ya kira-kira tanggapan dari Dr. I. L Nomensen bila melihat HKBP saat ini?
Nelson - 23/11/2008 at 12:08 pm
Kita boleh-boleh aja kagum sama kelebihan seseorang. Tapi kita harus ingat bahwa kesuksesan yang luar biasa dari tuan Nommensen tidak lain dan tidak bukan karena anugerah Tuhan kepadanya dalam bentuk kepandaian dan kebijaksanaanya dalam menginjili orang Batak yang pada saat itu masih animisme, primitif, terisolir dan lain-lain.
Satu hal lagi yang harus kita ingat adalah PENGINJILAN DI TANAH BATAK BUKANLAH PROGRAM PRIBADI NOMMENSEN. Beliau hanyalah salah satu missionaris yang ditugaskan oleh badan zending dari Jerman yang bernama RMG. Banyak missionaris yang terlibat dalam penginjilan orang-orang Batak sebelum dia, seperti: Heine, Kleine, Betz, Van Asseltz, P.H. Johannsen, Mohri, dll.
qartha - 20/04/2009 at 8:51 am
Mengharukan dan pantas sekali menjadi cerminan buat kita terutama generasi muda Batak. Cerita dan sejarah memanglah seharusnya mengajari kita untuk hidup lebih bijak dan kita dapat mengambil teladan yang baik dari sana. Pemerintah Taput gimana kalo kisah hidup nomensen ini lebihj di-explore. Buatlah sesuatu karya kreatif akan ini.
Yang bisa dilihat, diteladani, dipelajari banyak orang Batak yang datang ke Taput khususnya
tina - 29/09/2009 at 8:52 am
Belakangan ini jasa Nommensen sudah diabadikan dalam bentuk monumen Salib Kasih.
Satu hal yang harus ito ingat: KEKRISTENAN DI TANAH BATAK BUKANLAH HASIL KARYA NOMMENSEN SEMATA.
qartha - 29/09/2009 at 9:21 am
walaupun bukan hasil karya NOMENNSEN semata, tp salah satu adalah dia, jd wajar kita salut kpdnya…!!
rika - 05/04/2010 at 6:26 am
Nah…kalo kamu sudah mengatakan bahwa Nommensen adalah salah satunya, maka kamu juga harus salut kepada rekan-rekannya missionaris yang menginjili ompung kita di bonapasogit.
qartha - 07/04/2010 at 2:55 am
memang perjuangan-Nya patut lah kita ikuti kan setujuuuuuuuu
rifael pangaribuan - 07/05/2010 at 1:44 pm
aku sangat suka dengan cerita tentang Nommensen.apa yang diinginkannya pasti terwujud…..aku sallutttt
fernandes - 18/05/2010 at 6:35 am
Memang begitulah adanya jika hidup dalam kesalehan, maka apa yang kita padaNya pasti terwujud.
Karena itu jadilah orang-orang yang saleh.
qartha - 02/06/2010 at 1:19 am
Luar biasa, Tuhan bekerja dgn caraNya… Trima kasih Tuhan krn Engkau tlah mengirim missionaris kpd kami & kami pun jd mendpat Keselamatan dgn mengenal Engkau Yesus sbg Tuhan & Juruslamat…
Seperti perintah Tuhan Yesus utk membritakan Injil smpai k ujung bumi.
Leo Vedi Bekardo - 06/07/2010 at 3:52 am
Nommensen adalah wujud dari anak manusia yang dibawa oleh Tuhan untuk menjadi penginjil di tanah batak.
Syukur pada Allah bapa kita, karena bagaimanapun HKBP besar karena cikal bakalnya nommensen ada di Tano batak.
jadi orang batak yang tidak ngerti bahasa batak , harap malu hati karena nommesen aja yang orang import dari luar mau belajar bahasa batak , sementara orang batak sendir ngakunya ga bisa..malu…jadi banggalah HKBP . Hidup HKBP..Hidup HKBP
Yolanda - 23/07/2010 at 7:26 am
sungguh suatu perjalan hidup yg penuh dengan komitmen yg baik…
dy menjalankan tugas-a dengan baik tanpa memandang orang yg akan dy hadapi wlaw ancaman nyawa yg akan dy hadapi… tetapi dengn misi-a dan penyerahan hidup-a kpad Tuhan,, dy berhasil menunjkkan n mewujudkan pa yg Tuhan khendaki terjadi di tanah Batak.
Biarlah kiranya kasih Tuhan Yesus yg senantiasa memelihara hidup kita.
renta siregar - 26/07/2010 at 3:28 am
Satu hal yg perlu dketahu! Adlah pdt. Nomensen blajar bhasa btak dan bahasa indonesia slama 3bulan di Barus
Rajgun - 27/07/2010 at 10:35 am
Salah… Dia belajar bhs. Batak dan Indonesia di STT Depok. Saat itu orang Batak di Barus belum mengenal bahasa Indonesia.
qartha - 04/08/2010 at 3:09 am
Nommensen hanya menterjemahkan sebagian dari Alkitab, yakni Perjanjian Baru. Sedangkan Perjanjian Lama yang menterjemahkan adalah Pdt. Pieter Heinrich Johannsen (seorang missionaris dari Jerman yang diutus ke Pansurnapitu, Tarutung).
Cucu Nommensen sering datang ke kantor pusat HKBP tanpa sepengetahuan kita jemaat. Terakhir mereka datang pada saat peresmian Salib Kasih.
qartha - 01/02/2011 at 2:07 am
Mungkin benar bangsa batak menerima berkat dari ALLAh bukan karna dari nommensen tapi Allah memang memberkati bangsa batak, Allah begitu mengasihi bangsa batak..
Namun apa yang dikerjakan ompui di tanah batak belum lah tuntas, sudah 1 abad lebih firman Allah yang dibawa nya telah tumbuh tp yg ada sekarang tidak ada kemajuan yg terjadi pada iman orang batak..
mari kita lanjutkan pekerjaannya di tanah batak..
Tuhan memberkati
agus boy - 08/02/2011 at 1:47 pm
siapa bilang tidak ada kemajuan yg terjadi pada iman org Batak?
buktinya kemana orang Batak merantau, disitu mereka mendirikan gereja mereka (HKBP).
meskipun mereka merantau ke luar negeri, tetap mereka mendirikan gereja HKBP disana.
qartha - 09/03/2011 at 11:02 am
Seorang jemaat HKBP yang mencintai Nommensen adalah orang yang tidak hanya berkata-kata tetapi membuktikannya lewat perbuatan yaitu hiddup selalu dalam kasih,…amin!
MANURUNG - 27/04/2011 at 2:30 pm
LIKE THIS
Renhard Judika Simanjuntak - 22/07/2011 at 6:34 pm
nomensen adalah sosok pahlawan bagi babgsa batak ia mampu menyebarkan bahasa batak,denagan penuh rintangan,dan penuh bahaya
rikson - 04/08/2011 at 1:39 pm
kami bangga terhadap nomensen
rikson - 04/08/2011 at 1:40 pm
tu sbuah perjuangan yg luar biasa dr oppui….
mari bangsa batak,, jgn kita sia2kn pa yg telah diberikan oleh Nommensen kpd kta…
REnta Revina Regar - 29/08/2011 at 5:46 am
saya ingin kelak dewasa nanti seperti Pdt. IL nommensen
seorang misionaris belanda yang berani membritakan injil ke seluruh dunia
maka dari itu kita harus ikutin jejak Ompu i..
kita hrus brani mengabarkan injil ke mana pun
eko - 13/09/2011 at 1:49 pm
nommensen itu orang Jerman, bukan Belanda
qartha - 23/09/2011 at 9:57 am
Bravo for Nommensen
Cristin Situmorang - 03/10/2011 at 4:03 am
kita juga harus ingat dengan Samuel Munson dan Henry Lyman. yang telah berjuang sebelum Nommensen. seandainya Munson dan Lyman tidak mati, maka tidak akan ada Gereja Suku di Sumut! Gereja harus terbuka bagi setiap orang, tidak pandang suku, bangsa dan keberadaannya!
are laia - 07/10/2011 at 3:17 pm
pernakah kita mengetahui apa perbedaan ajaran dalam gereja-gereja? manakah yang benar?
are laia - 07/10/2011 at 3:23 pm
Sangat tertarik
togarajamanurung - 08/10/2011 at 2:01 am
saya ingin kelak dewasa nnti seperti pdt IL nommansen
seseorang yg diutus tuhan dari belanda yg memberitakan injil keseluruh dunia
maka dari tuh qta hrus ikutin jejak bapak nomansen
qta harus bsa memberitakan injil keseluruh dunia………
gbu………
lidhya maya sari pakpahan - 10/10/2011 at 11:25 am
kita mestinya bangga atas perjuangan op.Nomensen
kepada kita bangso batak,karna beliau yang mengajarkan
tntang agama Kristen.
thank’s to op.Nomensen and to you god
niga martua sirait - 05/12/2011 at 12:22 pm
THANK’S TO OP.NOMENSEN
AND TO YOU GOD THANK YOU SO MUCH
niga martua sirait - 05/12/2011 at 12:26 pm
Nomensen,Tuhan telah mengirimnya menjadi seorang yang sangat mengasihi orang Batak melebihi siapapun dari orang batak sendiri dalam sejarahnya…
sudirman nababan - 15/12/2011 at 2:32 am